Pengertian Tuna Aksara, Faktor, Dampak, Upaya Mengatasi, dan Contohnya

Diposting pada

Pengertian Tuna Aksara

Tuna aksara atau buta huruf terdiri dari beberapa kategori antara lain tidak bisa membaca atau tidak mengenal huruf, dan juga bisa membaca namun tidak bisa menangkap apa yang dimaksud dari bacaan meski hanya singkat. Indonesia memiliki banyak tuna aksara yang mencapai jutaan orang.

Namun berkat upaya pemerintah dan memasifkan fungsi literasi lainnya, jumlah tuna aksara di Indonesia perlahan menurun. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah seperti adanya Gerakan Indonesia Membaca dan sebagainya. Pada artikel ini akan dibahas mengenai pengertian, faktor penyebab, dampak, upaya mengatasi dan contoh tuna aksara.

Tuna Aksara

Tuna aksara banyak disandang oleh lansia, yang dahulu memang pendidikan sangat sulit didapat. Kesadaran pendidikan dan ketimpangan sosial juga menajadi penyebab banyaknya penyandang tuna aksara. Tuna aksara mempunyai efek yang besar di era globalisasi ini.

Seorang penyandang tuna aksara di mana dia tidak bisa membaca, maka dia juga tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi yang meningkat pesat.

Pengertian Tuna Aksara

Tuna aksara dalam istilah lain adalah buta huruf atau tidak melek baca yaitu tidak dimilikinya kemampuan seseorang mengenal huruf. Artinya penyandang tuna aksara tidak bisa membaca bacaan bahkan terdapat orang yang tidak mengenal apa itu huruf dan angka.

Pengertian Tuna Aksara Menurut Ahli

Berikut di bawah ini adalah definisi tuna aksara yang dikekemukakan oleh para ahli yaitu antara lain:

Merriam Webster

Definisi dari tuna aksara yaitu memiliki sedikit atau tanpa pendidikan terutama tidak dapat membaca atau menulis. Hal ini ditunjukkan dan ditandai oleh kurangnya keakraban dengan bahasa dan sastra.

UNESCO

Pada hakikatnya, penyandang tuna aksara adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis pernyataan sederhana pendek tentang kehidupan sehari-harinya.

Secara fungsional, mereka tidak dapat terlibat dalam semua kegiatan di mana melek huruf diperlukan untuk berfungsinya secara efektif kelompok dan komunitasnya juga memungkinkan untuk terus bisa membaca, menulis, dan menghitung untuk pengembangan dirinya dan masyarakat.

Reis dan Castro

Perbedaan antara orang yang melek huruf dan tuna aksara sangat jelas. Penyandang tuna aksara tidak pernah bersekolah dan bahkan tidak bisa membaca atau menulis kata-lata tunggal. Sementara orang melek huruf bisa membaca.

Berdasarkan pengertian ini, hal yang menyebabkan orang menyandang tuna aksara adalah tidak pernah mendapatkan pendidikan dalam lingkungan sekolah.

Paulo Freire

Penyandang tuna aksara adalah organ marginal, kata ini mengandung makna pasif. Maksudnya bahwa penyandang tuna aksara merupakan orang yang dimarginalkan atau diasingkan dari masyarakat.

Desakan ekonomi, kesadaran terhadap pendidikan yang rendah, jumlah anggota keluarga yang banyak, persaingan kehidupan dan ketidakmampuan dalam menghadapi kehidupan mengakibatkan anak putus sekolah sehingga menimbulkan masyarakat yang tuna aksara.

Faktor Penyebab Tuna Aksara

Berikut di bawah ini beberapa faktor penyebab masyarakat menyandang tuna aksara antara lain:

  1. Kemiskinan

Ketidakmampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya termasuk pendidikan dan permasalahan ekonomi mikro dalam keluarga mengakibatkan mereka tidak mampu membiayai sekolah. Kemiskinan menyebabkan masyarakat hanya bisa memikirkan dan memenuhi kebutuhan pokoknya saja. Pendidikan menjadi nomor kesekian karena mereka harus memenuhi pangan dan sandang mereka terlebih dahulu.

  1. Putus sekolah dasar

Fenomena putusnya masyarakat ketika hanya mengenyam bangku SD bukan fenomena yang luar biasa. Banyak dari masyarakat yang membiarkan anaknya putus sekolah untuk membantu bekerja. Banyak juga anak-anak yang tidak mau melanjutkan seklolah karena faktor lingkungan, faktor keluarga dan faktor sarana prasarana sekolah yang kurang memadai. Hal ini justru akan meningkatkan tuna aksara.

  1. Kondisi Sosial masyarakat

Jikalau ditinjauh dari segi dalam arti masyarakat. Penyebab buta huruf antara lain;

  • Tidak meratanya jaminan kesehatan dan gizi buruk

Terdapat perbedaan kondisi kesehatan di daerah-daerah. Sehingga masyarakat dengan kondisi kesehatan yang kuarang baik akan menimbulkan adanya tuna aksara, sementara itu, masyarakat dengan kondisi kesehatan yang baik dan gizi yang terjamin akan dengan mudah belajar tanpa harus khawatir tentang kesehatannya.

  • Faktor demografis dan geografis

Kondisi tempat tinggal masyarakat sangat mempengaruhi pendidikan seseorang. Lingkungan tempat tinggal yang kumuh ditinggali oleh masyarakat di mana dari segi ekonomi rendah. Terdapat banyak kriminalitas dan orientasi pendidikan yang sangat kurang.

Sehingga banyak menyumbang persentase masyarakat tuna aksara. Sementara itu, di lingkungan tempat tinggal layak atau elit, rata-rata masyarakat berkecukupan dari segi ekonomi. Daya minat dan orientasi pendidikan cukup besar, sehingga jumlah tuna aksara juga lebih sedikit.

  • Faktor sosiologis

Pada lingkungan desa terpencil dengan kondisi lingkungan dan sarana prasarana sekolah yang minim tuna aksara sudah dianggap sebagai kewajaran. Tidak bisa membaca tidak menjadi masalah, sudah pasrah karena memang kurang tersedianya sarana pendidikan.

Tidak perlu bisa membaca karena merasa pekerjaan dan kehidupan sehari-harinya bisa berjalan lancar tanpa harus bisa membaca. Hal ini merupakan salah satu alasan masyarakat menjadi tuna aksara adalah kesadaran akan pendidikan yang rendah.

  • Isu gender

Terdapat beberapa daerah yang masih menjunjung adatnya, di mana perempuan akan lebih baik mengerjakan pekerjaan rumah dan tugasnya sebagai pelayan laki-laki. Anggapan bahwa pendidikan akademis tidak lebih baik daripada pendidikan dasar wanita seperti memasak, menjahit, dan sebagainya.

  1. Aspek struktural berskala makro, mikro dan aspek kebijakan

Kebijakan pemerintah sangat berperan penting dalam menuntaskan tuna aksara. Namun, di dalam penerapannya masih terdapat tuna aksara di setiap daerah.

Kegiatan bagi masyarakat tuna aksara masih bersifat momentum. Kegiatan rutin kurang dijalankan dengan masif. Masih terdapat orangtua penyandang tuna aksara, bahkan remaja hingga anak-anak yang putus sekolah dan belum bisa membaca.

Dampak Tuna Aksara

Berikut di bawah ini beberapa faktor penyebab masyarakat menyandang dampak adanya tuna aksara baik bagi diri sendiri maupun mayarakat umum yaitu:

  1. Penyandang tuna aksara pada tingkat fungsional menjadi tergantung pada mekanisme koping. Tuna aksara mengembangkan keterampilan mendengarkan dan ingatan yang superior untuk bertahan hidup setiap hari.
  2. Tuna aksara sering hidup dalam isolasi. Tuna aksara menghindari pergi ke daerah yang baru karena mereka tidak dapat membaca tanda atau petunjuk. Mereka mengabaikan apa yang tidak bisa mereka baca bahkan untuk hal penting seperti surat beharga. Mereka akan kesulitan dalam mencari pekerjaan apabila tahu bahwa mereka tuna aksara.
  3. Tuna aksara akan membuat seorang rentan terhadap penipuan. Sebagian besar kehidupan kita terjadi secara tertulis. Mulai dari harga makanan, pakaian, maupun hubungannya dengan sosial media. Tuna aksara dapat ditipu secara finansial orang yang tidak bertanggung jawab. Penipu menargetkan penyandang tuna aksara karena mereka tidak dapa memverifikasi sendiri apa yang diajarkan.
  4. Penyandang tuna aksara merasa rendah diri. Di mata mereka, tidak membaca membuat mereka tidak layak untuk dicintai dan dihormati. Bahkan banyak orang yang akan mempertanyakan kemampuan mereka untuk berkontribusi di rumah maupun komunitasnya.

Upaya Mengatasi Tuna Aksara

Berikut di bawah ini beberapa cara yang dilakukan untuk mengatasi tuna aksara antara lain:

  1. Mengurangi jumlah anak yang putus atau tidak bersekolah

Anggaran pendidikan yang semakin meningkat dan banyaknya beasiswa yang diberikan kepada masyarakat meningkatkan jumlah anak putus sekolah berkurang. Namun, upaya tersebut masih kurang optimal karena masih terdapat masyarakat yang tidak bisa bersekolah.

Baik karena jauhnya jarak tempat tinggal dengan sekolah maupun karena kurangnya tenaga pendidik di daerah mereka.

  1. Membuat metode baru dalam pembelajaran baik dalam pendidikan formal maupun informal

Upaya mengatasi tuna aksara melalui penggunaan cara-cara yang lain, sehingga masyarakat golongan tua yang juga bisa mendapatkan pendidikan, khususnya pendidikan aksara.

Caranya bisa melalui pendidikan nonformal yang dilakukan oleh komunitas dan sebagainya. Pendidikan formal juga sangat efektif untuk mengentaskan tuna aksara fungsional yang sebenarnya bisa membaca, namun tidak memahami makna di dalamnya.

  1. Memasifkan kebijakan pemerintah mengenai pemberantasan tuna aksara

Kebijakan pemerintah mengenai tuna aksara sudah ada seperti meningkatkan anggaran pendidikan dan fasilitas bagi tuna aksara. Contoh kebijakan publik tersebut sangat perlu dimasifkan dan diterapkan oleh masyarakat dengan seksama. Semua kebijakan yang sudah dicanangkan, harus dieksekusi atau diterapkan oleh segala lapisan masyarakat.

  1. Meningkatkan keterlibatan dari berbagai pihak dalam upaya pemberantasan tuna aksara

Keterlibatan berbagai pihak dalam menurunkan jumlah tuna aksara sangat penting. Pemerintah dengan kebijakannya, pihak swasta dengan bantuan anggarannya, lembaga swadaya masyarakat melalui program yang diterapkan secara langsung kepada masyarakat. Serta kemauan masyarakat untuk belajar dan membantu menyadarkan pentingnya melek aksara.

Contoh Tuna Aksara

Salah satu contoh tuna aksara adalah sebagai beirikut;

Masyarakat Indonesia

Pada tahun 2018, berdasarkan catatan AMAN terdapat kurang lebih satu juta anggota masyarakat adat yang tidak bisa membaca. KPU (Komisi Pemilihan Umum) diharapkan memberi rujukan bagi pemilih tuna aksara yang hendak memilih.

Mereka diharapkan mendapatkan pendampingan dari kerabat ketika mencoblos di bilik suara layaknya penyandang disabilitas.

Nah, demikianlah tadi uraian lengkap yang bisa kami berikan kepada segenap pembaca terkait dengan bahasan dalam pengertian tuna aksara menurut para ahli, faktor penyebab, dampak, upaya untuk mengatasi, dan contohnya di masyarakat. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  • https://www.merriam-webster.com/dictionary/illiterate
  • https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2016.01617/full
  • https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000190571
  • https://www.sendrelief.org/news/5-effects-illiteracy/
  • https://news.okezone.com/read/2019/03/28/606/2035997/nasib-para-warga-adat-di-pemilu-2019-dari-buta-huruf-hingga-tak-ada-ktp
Gambar Gravatar
Guru PPKn Alumni Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *