Contoh Utilitarianisme di Masyarakat

Diposting pada

Contoh Utilitarianisme di Masyarakat

Utilitarianisme merupakan pandangan yang menganggap bahwa hal yang baik adalah yang bermanfaat, berguna, berfaedah dan yang menguntungkan. Teori ini berbicara mengenai arti etika bagaimana kita harus menilai berbagai hal terkait pilihan yang dihadapi oleh orang lain. Hal yang dinilai atau dievaluasi adalah tindakan, hukum, kebijakan dan sebagainya, Menggunakan teori utilitiarnisme, kita bisa menentukan mana tindakan, hukum, dan kebijakan yang baik dan mana yang dinilai buruk.

Terdapat beberapa teori etika yang mana baik dan tidak baiknya sesuai dengan prinsip dan kondisi masing-masing individu, masyarakat, atau negara yang menerapkannya. Sebagai salah satu teori etika, apakah utilitarianisme adalah teori yang baik? Apakah terdapat konsekuensi ketika kita memilih menggunakan konsep tersebut dalam kehidupan sehar-hari? Untuk bisa menjawabnya, kita akan membahas contoh-contoh utilitarianisme di masyarakat pada artikel ini.

Utilitarianisme

Pandangan utilitarianisme menilai bahwa tindakan secara moral adalah tindakan yang memiliki hasil paling baik. Utilitarianisme merupakan bentuk konsekuensalisme, artinya tindakan yang benar dipahami sepenuhnya terkait konsekuensi yang dihasilkan. Pada pandangan utilitarian, seseorang harus memaksimalkan kebaikan secara menyeluruh, yaitu mempertimbangkan kebaikan orang lain serta kebaikannya sendiri.

Maka dari itu, ada bebepa pandangan mengenai utilitarianisme. Pertama, “utilitarianisme tindakan” artinya apakah tindakan yang kita pilih menghasilkan kebahagaiaan terbesar. Kedua, “utilitarianisme aturan” yaitu kita harus mencari tahu perilaku apa yang biasa menyebabkan kebahagaiaan sehingga kita bisa mengubahnya menjadi aturan. Kedua jenis utilitarianisme ini sebaiknya kita pahami dalam menganalisis atau mengevaluasi macam sistem hukum, tindakan, kebijakan dan semua kegatan lain.

Konsep Utilitarianisme

Berdasarkan filosofi, tindakan secara arti moral dianggap benar jika konsekuensinya mengarah pada kebahagiaan (tidak adanya rasa sakit), dan salah jika itu berakhir dengan ketidakbahagiaan (rasa sakit). Pada intinya, utilitarianisme merupakan teori etika yang menentukan “benar” dan “salah” dengan berfokus pada ”hasil” kebaikan terbesar dalam jumlah terbesar.

Jeremy Bentham, berpendapat bahwa terdapat tujuh faktor yang bisa dipergunakan dalam menentukan utilitas tindakan, yaitu intensitasnya, durasinya, kepastian atau ketidakpastiannya, kedekatan dan kejauhannya, fertilitasnya (kemungkinan yang dimilikinya untuk diikuti oleh sensasi jenis yang sama), kemurniannya (kemungkinan yang dimilikinya untuk diikuti oleh sensasi jenis yang berlawanan), serta tingkat atau jumlah orang yang dipengaruhinya. Apabila digabungkan apakah faktor tersebut akan memberikan tingkat kamanfaatan (utility) atau ketidakmanfaatan (disutility).

John Stuart Mill mengungkapkan bahwa kebahagiaan seseorang tidak hanya bisa dinilai dari segi kuantitas seperti yang dinyatakan oleh Bentham, namun juga kualitas dari tindakah beserta hasilnya. Perlu kita tahu bahwa, kita tidak akan dapat memprediksi masa depan. Sehingga sulit untuk mengetahui apakah hasil/konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan sekarang akan baik atau buruk. Hal ini lah yang menjadi keterbatasan dari pandangan utilitarianisme.

Contoh Utilitarianisme di Masyarakat

Adapun contoh utilitarianisme yang bisa kita temui di masyarakat antara lain, sebagai berikut:

  1. Pajak Tinggi untuk Tembakau

Pajak tembakau yang tinggi menurut pembuat kebijakan merupakan keputusan yang paling baik daripada melarang adanya produksi tembakau. Pajak tinggi bagi tembakau diharapkan dapat mengurangi konsumsi masyarakat terhadap tembakau.

Namun, negara akan tetap bisa menambah pemasukan dari produksi tembakau mengingat pemasukan dari produk ini lumayan tinggi. Sehingga melarang produksi tembakau, kemungkinan akan mengurangi pemasukan.

  1. Pendidikan Dasar Gratis

Rendahnya tingkat pendidikan dinilai menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Sehingga perlu adanya pendidikan gratis untuk memberikan kesempatan masyarakat yang tidak memiliki biaya sekolah. Pendidikan gratis berdasarkan teori utilitarianisme adalah hal yang paling baik dan memberikan kebahagiaan karena memberikan kesempatan anak untuk bersekolah.

Melalui sekolah, tingkat kriminalitas dan kemiskinan akan berkurang. Namun, dibaliknya kita tidak bisa memprediksi apakah dengan biaya gratis, anak menjadi tidak bersungguh-sungguh dalam bersekolah atau bahkan biaya pendidikan diambil dari mengurangi anggaran dana lain. Intinya pendidikan gratis dianggap sebagai tindakan yang paling baik dan benar.

  1. Rusunawa

Rusunawa merupakan rumah susun yang disewakan bagi masyarakat. Rusunawa merupakan solusi yang bai katas permasalahan yang timbul akibat terbatasnya lahan pemukiman. Program rusunawa dianggap akan memberikan manfaat yang lebih daripada tidak mengadakan program rusunawa.

Hal ini dikarenakan rusunawa lebih hemat, sehingga orang yang berpenghasilan di bawah rata-rata juga bisa menyewanya daripada tinggal di kolong jembatan atau emperan toko.

Selain itu, terdapat fasilitas bersama khususnya MCK yang layak. Meskipun harus menanggung beberapa konsekuensi seperti sempit dan kurang privasi. Namun konsekuensi yang dihasilkan dengan tinggal di rusunawa lebih baik daripada tidak memiliki tempat tinggal.

  1. Pesawat Tanpa Awak

Banyak orang di Amerika Serikat percaya penggunaan pesawat tanpa awak militer dianggap menghilangkan rasa sakit dan kesedihan karena kehilangan orang yang dicintainya dalam perang. Pesawat tanpa awak dinilai memberikan manfaat yang besar untuk mengurangi jumlah kematian pasukan perang daripada mengirimkan pesawat dengan awaknya.

  1. Vaksinasi

Adanya persyaratan untuk melakukan vaksinasi pada anak terhadap penyakit polio dan campak merupakan hal yang akan mengurangi terjangkitnya penyakit tersebut. Orang tua tidak punya pilihan lagi ketika aturan sudah menetapkan bahwa semua anak harus mendapatkan vaksinasi tersebut.

Hal tersebut didasarkan atas alasan bahwa vaksinasi merupakan metode yang mudah untuk mencapai hasil yang sangat baik yaitu memberantas penyakit menular atau kalua tidak justru menimbulkan hal yang tidak baik seperti meningkatnya tingkat kematian akibat polio dan campak.

  1. Bisnis

Seorang pebisnis biasanya memiliki beberapa pertimbangan untuk memulai bisnisnya. Seperti bisnis apa yang akan dia jalani, mengapa dia memilih bisnis itu, di mana dia akan menjalankan bisnisnya, berapa modal yang harus dikeluarkan, dan sebagainya. Misalnya seseorang memulai bisnis kuliner karena akan menghasilkan hal yang baik bagi dirinya.

Menurutnya bisnis kuliner adalah bisnis yang tidak akan mati, dia ahli dalam bidang kuliner, dan tidak membutuhkan modal yang besar sesuai kemampuannya. Berdasarkan teori utilitarianisme, orang tersebut berpendapat bahwa bisnis kuliner adalah keputusan yang baik daripada bisnis barang antik misalnya yang nantinya akan semakin ditinggalkan.

  1. Politisi

Ketika terjun dalam dunia politik, para politisi sebelumnya sudah melakukan prediksi berapa yang yang akan mereka habiskan untuk mengadakan kampanye, apakah uang yang mereka habiskan untuk iklan kampanye dapat meningkatkan kehidupan masyarakat.

Atau apakah uang itu lebih baik dihabiskan untuk sesuatu yang lain daripada mengikuti pemilu dengan dana yang begitu banyak.

  1. Hukuman Mati

Hukuman mati merupakan hukuman pidana yang dijatuhkan untuk kasus kejahatan berat seperti pembunuhan berencana, perdagangan narkoba, teorisme dan sebagainya yang sudah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hukuman mati berdasarkan teori utilitarianisme aturan dianggap yang baik karena akan mengurangi tindakan yang lebih berbahaya.

Sementara tidak melakukan hukuman mati dianggap buruk karena mengakibatkan tersangka akan mengulangi perbuatannya lagi. Dan tidak membuat masyarakat yang lain menjadi takut melakukan kejahatan yang sama. Meskipun demikian, apabila didasarkan pada utilitas tindakan, hal tersebut memberikan kesakitan bagi tersangka dan keluarganya. Dengan kata lain, hukuman mati dianggap melanggar arti HAM. Namun, keputusan ini dianggap baik oleh pemberi kebijakan demi kebahagiaan orang banyak.

  1. Physical Distancing

Penyebaran virus penyakit tertentu akan terjadi apabila masyarakat bertemu satu sama lain. Sehingga kebijakan Physical Distancing (jaga jarak antar individu) dianggap hal yang baik oleh suatu negara.

Physical Distancing akan menimbulkan dampak pada sistem ekonomi masyarakat. Namun, dengan tidak adanya Physical Distancing, akan mempercepat penyebaran virus dan meningkatkan jumlah kematian serta justru akan menimbulkan dampak ekonomi yang lebih parah karena biaya kesehatan yang semakin banyak.

  1. Pembuatan Jalan Tol

Kebijakan pembuatan jalan tol dinilai baik oleh pembuat kebijakan demi kelancaran transportasi khususnya roda empat. Jalan tol dianggap dapat mengurangi konsumsi bahan bakar akibat kemacetan dan memperkecil angka kecelakaan karena keamanan dan sistem lalu lintas di jalan tol terkontrol dengan baik mulai dari segi kecepatan dan jenis kendaraan. Jalan tol juga bisa membuka lapangan pekerjaan.

Meskipun terdapat konsekuensi lain seperti hanya kendaraan jenis tertentu yang boleh melintasi, tidak terkena imbasnya perekonomian warga sekitar akibat adanya jalan tol, bahkan sulitnya akses jalan kaki bagi warga sekitar. Namun, kebijakan pembuatan jalan tol dianggap memiliki manfaat yang lebih baik daripada tidak membangun jalan tol.

Itulah tadi uraian atas materi yang bisa kami berikan pada semua pembaca. Berkenaan dengan contoh-contoh utilitarianisme yang ada di masyarakat. Semoga melalui artikel ini bisa memberikan edukasi serta referensi bagi semuanya.

Datar Pustaka
  • https://www.iep.utm.edu/util-a-r/
  • https://plato.stanford.edu/entries/utilitarianism-history/
Gambar Gravatar
Guru PPKn Alumni Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *