Contoh Sikap Sila Ke-2 Pancasila dalam Kehidupan

Diposting pada

Sikap Sila Ke-2 Pancasila Adalah

Sila ke-2 dalam Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”, dimaksudkan untuk menjadikan kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia dalam mengurus mutu kemanusiaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab, memiliki makna bahwa negara memberikan penghargaan penuh terhadap nilai manusia berupa hak, harga diri, nyawa, kehormatan, dan kebutuhan hidup yang layak bagi manusia. Oleh sebab itulah sebagai penjelasan lebih lanjut artikel ini akan menuliskan tentang contoh pengamalan sila ke-2 dalam Pancasila.

Sila Ke-2 Pancasila

Di dalam sila 2 Pancasila terdapat dua sisi yaitu kemanusiaan sebagai sisi humanitas dan sisi keadilan dan keadaban. Dua sisi tersebut saling berkaitan keadilan dan keadaban tidak akan pernah ada tanpa kesadaran terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Contoh Sikap Pengalaman dalam Sila Ke-2 Pancasila

Berikut inilah setidaknya contoh perilaku dalam kehidupan masyarakat yang sesuai dengan sila ke dua Pancasila, antara lain;

Menghormati Hak Orang Lain

Kita sebagai manusia memang diciptakan dengan hak masing-masing yang melekat pada diri kita. Di sisi lain, kita tidak boleh hanya memikirkan pemenuhan hak untuk kita sendiri tanpa memikirkan orang lain. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, kita punya hak untuk kenyamanan hidup misalnya dengan mendengarkan musik. Di posisi tersebut kita juga harus ingat bahwa orang lain juga punya hak yang sama dalam kenyamanan, maka dari itu jangan mengatur volume musik keras-keras agar kenyamanan orang lain tidak terganggu. Selengkapnya, baca; Contoh Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UUD 1945

Bertindak Adil Tanpa Memandang Ras, Suku, Agama, Golongan dan Status Sosial

Bersikap penuh keadilan merupakan keutamaan dalam pengamalan sila ke dua ini. Adil yang dimaksud di sini adalah adil dalam tindakan moral bukan tidakan ekonomi. Seperti contohnya, dalam meyelesaikan suatu permasalahan yang dipandang bukanlah ras, suku, agama, golongan atau bahkan status sosial, melainkan kebenaran terhadap penyelesaian masalah itu.

Namun saat ini, sikap adil perlahan mulai hilang dari masing – masing pribadi manusia, terlebih lagi nurani para petinggi negeri yang sudah mulai tertutup dengan iming-iming harta dalam menyelesaikan suatu masalah. Seperti keadilan di bidang hukum, nenek tua yang hanya mencuri duah coklat di penjara dengan hukuman berat, sedangkan koruptor masih bisa menikmati fasilitas mewah di dalam penjara.

Menunjukkan Sikap Sopan Santun Terhadap Siapapun

Sikap sopan santun tak hanya ditujukan untuk orang yang lebih tua dari kita. Kita harus menunjukkan sikap sopan santun terhadap semua orang. Entah orang tersebut lebih tua atau lebih muda dari kita, ataupun orang terebut memiliki status sosial yang lebih tinggi atau rendah dari kita, bahkan terhadap orang tak dikenal pun kita harus tetap menjaga sikap sopan santun, karena hal tersebut merupakan salah satu penghormatan atas orang lain. Tetapi kondisi sekarang berbeda.

Banyak orang yang sudah mengabaikan sikap sopan santun bahkan terhadap orang yang lebih tua. Seperti yang sering terjadi, banyak anak yang suka membangkang perintah orang tua atau guru dan yang lebih parah lagi sebagian orang tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut di karenakan banyak pengaruh budaya luar yang tidak disaring oleh masyarakat yang umumnya remaja.

Menghargai Pendapat Orang Lain

Kita tidak boleh menuntut untuk selalu dihargai oleh orang lain atas pendapat kita. Apabila kita ingin dihargai maka kita juga harus menghargai pendapat orang lain. Memaksakan kehendak kita pada orang lain untuk melakukan apa yang kita inginkan adalah sesuatu yang salah.

Orang lain juga mempunyai usul atau pendapat yang harus kita dengar. Seperti misalnya dalam suatu rapat, kita tidak boleh memaksakan orang lain untuk menyetujui apa yang kita kemukakan. Melainkan kita juga harus mendengarkan pendapat orang lain untuk mendapat hasil yang lebih baik, terlebih lagi sistem pemerintahan Negara Indonesia adalah demokrasi yang setiap individunya bebas untuk mengemukakan pendapatnya.

Memiliki Rasa Empati terhadap orang lain yang sedang kesusahan

Sebagai manusia yang terlahir memiliki hati nurani, seharusnya kita bisa memposisika diri kita untuk merasakan kesusahan yang orang lain rasakan. Kita tidak boleh merasa acuh ketika orang di sekitar kita merasakan kesusahan. Dengan merasakan dan membantu kesusahan orang lain secara tidak langsung kita telah mengangkat martabat kita sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Namun keadaan sekarang berbeda jauh dari keadaan dulu dimana rasa empati masih begitu tinggi.

Melihat keadaan sekarang sangat miris, seperti contoh nyata yang sekarang bayak ditemui, apabila ada orang yang kesusahan  justru bukan segera di tolong melainkan direkam dan kemudian diviralkan. Sepertinya kita perlu membangun rasa empati di dalam diri masing – masing, agar martabat kita sebagai manusia tidak turun.

Melaksanakan Kewajiban

Manusia selain memiliki hak, juga mempunyai tuntutan kewajiban yang harus dilaksanakan. Seperti misalnya, kita mempunyai hak untuk hidup dengan layak, tetapi kita juga punya kewajiban untuk berusaha dan bekerja unuk mewujudkan kehidupan yang lebih layaak. Kita tidak bisa menikmati hak kita tanpa melaksanakan kewajiban. Sayangnya, terkadang para individu jauh lebih meuntut haknya dan mengabaikan kewajiban yang harus dilakukan.

Membela Kebenaran.

Ketika kita mengerti tentang kebenaran di tengah masalah yang terjadi, kita harus mengungkapkannya. Meskipun ada resiko yang akan menimpa kita. Misalnya kita mengetahui bahwa terdapat seseorang yang melakukan kecurangan saat ujian, sebaiknyakita melaporkan kejadian tersebut.

Namun, keberanian kita seakan tipis dalam hal ini. Banyak individu yang memilih bungkam apabila melihat kebenaran yang ada di depan mereka. Mental kita sebagai manusia yang bermartabat harus lebih diperkuat lagi dalam hal ini. Apalagi mengungkap kebenaran yang sebenarnya terjadi, merupakan sesuatu hal yang sangat penting karena sangat berguna bagi kelangsungan kehidupan yang damai.

Berani mengakui kesalahan

Manusia tidak luput dari suatu kesalahan. Namun sayangnya manusia terlalu kerdil untuk berani mengakui kesalahannya. Kejujuran dalam hal ini sangatlah penting. Tanpa kejujuran untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat oleh diri kita, maka kita sama saja menurunkan martabat kita sebagai manusia. Seharusnya sebagai manusia yang bermartabat, kita harus mulai memupuk kejujuran mulai dari sekarang. Kejujuran dalam mengakui kesalahan akan sangat berpengaruh dalam membangun kehidupan.

Lebih mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan sendiri.

Sejatinya kebutuhan setiap pribadi individu, selalu saling membutuhkan. Oleh karena itu, tidak baik jika hanya mementingkan kepentingan pribadi. Kepentingan umum juga tak kalah penting, karena kita hidup di sebuah lingkungan yang saling membutuhkan.

Tapi sayangnya, keegoisan di dalam diri setiap individu terus tumbuh dan mengakibatkan seseorang hanya akan mementingkan kepentingan pribadi. Untuk melatih mengurangi keegoisan yang terus tumbuh di dalam individu, sebaiknya kita harus banyak bergaul dan membaur dengan masyarakat. Sehingga kita akan tahu apa yang dirasakan orang lain dan apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

Membangun sikap gotong royong

Sebagai pribadi yang hidup di tengah masyarakat, kita wajib untuk saling bekerja sama, bahu membahu menyelesaikan masalah bersama–sama. Lagi – lagi di sini kita harus menekan sisi keegoisan yang berada di dalam diri kita. Kita memang harus ringan tangan di dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sila ke dua Pancasila dalam pengamalannya menekankan pada hak asasi manusia karena perikemanusiaan atau kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan bagian dari hak asasi manusia.

Baca Juga;

  1. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa
  2. Fungsi Pancasila bagi Masayarakat Indonesia dan Contohnya
  3. Sejarah Pancasila Sbg Dasar Negara

Berdasarkan contoh tersebut, kita dapat menyimpulkan apakah nilai Pancasila sila kedua sudah diterapkan dalam sikap perilaku rakyat Indonesia? Nampaknya belum sepenuhnya diamalkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Dapat dilihat dari fakta yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari petinggi hingga masyarakat lapisan bawah.

Idiologi Pancasila bukan sekedar dasar negara yang dipakai ketika awal berdirinya negara, melainkan Pancasila merupakan pedoman untuk kehidupan berbangsa dan bernegara dari masa lampau, sekarang, hingga kelak masa yang akan datang. Pancasila juga bukan hanya pajangan di kantor–kantor pemerintahan dan sekolahan, melainkan pedoman yang harus dijadikan pegangan teguh dalam pengamalan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu sebagai rakyat Indonesia, kita wajib untuk mengamalkan masing–masing nilai di setiap sila Pancasila. Dengan begitu, negara ini akan menjadi negara yang bermartabat melalui rakyatnya. Demikianlah bahasan tentang contoh sikap sila ke-2 dalam Pancasila. Semoga bermanfaat, trimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *