Tahapan Internalisasi dan Contohnya di Masyarakat

Diposting pada

Macam Tahapan Internalisasi

Internalisasi merupakan pembentukan arti karakter yang dipengaruhi oleh situasi dan hal di luar dirinya. Proses internalisasi dapat dipengaruhi seseorang dalam bersikap, berperasaan, berkeyakinan dan lain-lain. Proses internasasi adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat. Manusia mempunyai bakat yang sudah ada dalam dirinya. Akan tetapi, untuk mengaktifkan berbagai macam kepribadiannya sangat dipengaruhi oleh stimulus yang ada di lingkungan sekitarnya.

Bagaimana internalisasi bisa terjadi kepada seorang individu? Tahapan-tahapan apa saja yang menjadikan proses internalisasi membentuk kepribadian individu tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita akan membahas tahapan yang ada dalam internalisasi.

Internalisasi

Internalisasi adalah proses menanamkan sesuatu baik keyakinan, sikap, dan nilai sehingga menjadi perilaku sosial. Sikap, keyakinan dan nilai tersebut disatukan dan digabungkan menjadi sebuah kepribadian. Proses internalisasi ini dapat membantu sesorang mendefinisikan dirinya melalui nilai-nilai yang terbentuk dalam dirinya untuk kemudiaan dipraktikkan dalam kehidupan di masyarakat.

Tahapan Internalisasi di Masyarakat

Tahap internalisasi dapat dilihat dari mana dan bagaimana makna nilai menjadi bagian dari pribadi yang dimiliki seseorang. Penjelasannya sebagai berikut;

David R. Krathwohl

Tahap-tahap tersebut menurut David R. Krathwohl antara lain adalah sebagai berikut;

  1. Receiving

Receiving atau menyimak adala terbuka menerima rangsangan, yang meliputi penyadaran, Hasrat menerima pengaruh dan selektif terhadap pengaruh tersebut. Pada tahap ini, nilai belum terbentuk melainkan masih dalam penerimaan dan pencarian nilai.

  1. Responding

Respounding atau menanggapi adalah tahap di mana seseorang mulai memberikan tanggapan terhadap rangsangan afektif yang meliputi compliance, secara aktif memberikan perhatian dan satisfication is respons atau puas dalam menanggapi. Tahap ini merupakan tahap di mana seseorang sudah mulai aktif dalam menanggapi nilai-nilai yang berkembang di luar responnya.

  1. Valuing

Valuing atau memberi nilai merupakan tahap di mana seseorang memberikan penilaian atas dasar-dasar nilai yang terkandung di dalamnya. Pada tahap ini meliputi tingkatan percay terhadap nilai yang diterima, merasa terikat dengan nilai-nilai yang dipercayai dan memiliki keterikatan batin atau komitmen untuk memperjuangkan nilai yang diterima dan diyakini tersebut.

  1. Organization

Organization yaitu mengorganisasikan berbegai nilai yang telah diterima. Pada tahap ini meliputi penetapan kedudukan atau hubungan nilai dengan nilai lainnya. Selain itu, juga mengorganisasikan sistem nilai dalam dirinya yakni cara hidup dan tata cara perilaku sudah didasarkan atas nilai-nilai yang diyakininya.

  1. Penyatuan

Pada tahap ini merupakan tahap di mana penyatuan nilai-nilai yang masuk dalam sistem nilai yang konsisten. Tahap ini meliputi generalisasi nilaisebagai landasan acuan dalam melihat dan memandang masalah-masalah yang dihadapi dan tahap karaktersasi atau mempribadikan nilai tersebut.

Muhaimin

Sementara itu, Muhaimin membagi tahapan internalisasi menjadi 3 bagian yakni sebagai berikut;

  1. Transformasi Nilai

Pada tahap transformasi, terjadi proses penerimaan nilai. Nilai dieruma dengan mendengarkan, melihat, dan membaca. Seseorang mampu memperoleh pengetahuan tentang nilai kebaikan, keburukan, dan manfaatnya bagi kehidupan melalui mendengar dan melihat

  1. Transaksi Nilai

Tahap transaksi nilai adalah tahap di mana terjadi interaksi timbal balik antara seseorang dengan stimulusnya. Pada tahap ini terjadi proses merespon nilai. Artinya terdapat tanggapan atau reaksi terhadap rangsang yang diterima kemudian individu tersebut meresponnya. Terdapat tiga respon yang terjadi dalam tahap ini yaitu “menerima nilai, menolak nilai, dan acuh tak acuh”.

  1. Transinternalisasi

Pada tahap terakhir adaahl tahap transinternalisasi. Pada tahap ini nilai internalisasi dilakukan melalui proses yang bukan hanya komunikasi verbal. Akan tetapi juga disertai dengan sikap mental dan kepribadian. Pada tahap ini kehadiran stimulant bukan lagi bersumber dari jasmaniahnya, melainkan watak dan kepribadiannya. Jadi, individu dan stimulant harus sama-sama aktif dalam menanamkan kepribadian.

Freudian

Berdasarkan pakar psikoanalisis yaitu Freudian menyatakan bahwa terdapat beberapa tahapan dalam proses internalisasi, antara lain sebagai berikut;

  1. Tahap Proyeksi

Proyeksi merupakan fase awal dari introyeksi. Pada tahap ini, individu menghubungkan kepada orang lain apa yang ada dalam diri mereka. Jadi, individu melihat dirinya dalam orang lain. Kecenderungan universalnya akan memiliki dampak positif dan negatif. Tergantung dari kualitas yang diproyeksikannya apakah mereka menolak atau tidak. Proyeksi dapat menimbulkan empati bahkan kebencian.

  1. Tahap introyeksi

Introyeksi mengacu pada proses individu dalam menyalin atau mereplika sikap dan perilaku dari orang-orang di sekitarnya. Sesuatu yang telah individu tersebut proyeksikan, mana yang menurutnya baik untuk dirinya akan diintroyeksikan atau ditiru untuk dilakukan dalam kesehariannya. Hal ini biasa disebut sebagai pembelajaran sosial atau social learning.

Kesimpulan

Dari berbagai tahapan internalisasi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh tersebut, kita bisa menggunakannya sesuai dengan konteks yang kita angkat. Pada dasarnya, dari tahapan-tahapan tersebut terdapat tahap awal yaitu menerima stimulus yang ada di luar ke dalam diri individu.

Proses penerimaan tersebut diakhiri dengan penanaman karakter dan pelaksanaan nilai hingga membentuk sebuah kepribadian.

Contoh Internalisasi

Adapun contoh internalisasi yang terjadi dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:

  1. Internalisasi Nilai

Seorang anak petani biasa bekerja keras karena juga ikut membantu orangtuanya dalam bertani. Anak tersebut menerima nilai-nilai kerja keras dari orang tuanya, menirunya, dan memasukkan dalam dirinya menjadi sebuah kepribadian yang digunakan untuk hidup dalam masyarakat.

  1. Internalisasi Norma

Seseorang yang hidup dalam masyarakat hidup berdampingan dengan arti norma. Misalnya si A hidup dalam lingkungan pesantren. Setiap hari harus bangun sebelum subuh untuk mandi dan melakukan aktivitas keagamaan. Di dalam lingkungan pesantren, dia juga dibatasi dalam penggunaan sarana komunikasi.

Terdapat jam makan dan jadwal piket yang sudah ditentukan sehingga tidak makan seenaknya sendiri. Aturan-aturan yang terdapat dalam pesantren tersebut menjadi kebiasaan bagi individu. Sehingga secara tidak sadar, dia juga melaksanakan norma-norma tersebut setelah dia tidak berada di lingkungan pesantren.

  1. Internalisasi Budaya

Seorang yang biasanya menyaksikan budaya K-Pop secara lambat laun terpengaruh oleh budaya Korea. Budaya tersebut tertanam dalam dirinya karena kebiasaan menyaksikan budaya Korea dilakukan secara berulang-ulang. Sehingga secara sadar dan tidak sadar dia meniru dan menerapakan budaya Korea yang disaksikannya.

  1. Internalisasi Agama

Seseorang yang mengikuti perkumpulan keagamaan akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang berada di dalam perkumpulan tersebut. Selain itu, orang tersebut juga menerima nilai-nilai agama dari hal-hal yang diajarkan dalam perkumpulan agama yang diyakinnya. Misalnya melalui pengajian dan perkumpulan agama-agama lainya.

  1. Internalisasi Politik

Kecenderungan politik seseorang dipengaruhi dari pendidikan politik yang ia dapatkan. Pendidikan politik bisa didapatkan dari bangku sekolah untuk pelajaran PPKn atau mata kuliah politik di universitas.

Selain itu, kampanye dari partai politik dan perhatian terhadap tokoh-tokoh politik yang menjadi panutannya juga mempengaruhi seseorang dalam melakukan kegiatan politik seperti memilih dalam pemilu atau bahkan menjadi calon yang dipilih dalam pemilu.

  1. Internalisasi Ekonomi

Kecenderungan seseorang dalam melakukan tindakan ekonomi dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Sebagai produsen, dia mengikuti trend yang ada di dalam masyarakat. Dia mempelajari trend yang sedang berkembang di pasaran, kemudian menimbang apakah trend tersebut bisa dilakukan dan menguntungkan.

Kemudian trend tersebut diadaptasi dalam kegiatan usahanya. Sebagai seorang konsumen, orang akan terpengaruh dengan iklan yang ada di media sosial.

Selain itu, tindakan seseorang dalam melakukan kegiatan ekonomi juga dipengaruhi dari keluarganya. Misalnya, di dalam keluarga ditanamkan untuk tidak membeli makanan di luar rumah dan harus makan masakan sendiri. Maka dia akan terbiasa dengan tidak mengeluarkan uang untuk membeli makanan dari luar.

Nah, demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada segenap pembaca berkenaan dengan tahapan dalam proses internalisasi menurut para ahli dan contohnya di masyarakat. Semoga bisa memberi edukasi bagi kalian yang membutuhkannya.

Daftar Pustaka
  • http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/22757/11.%20BAB%20II_1.pdf?sequence=11&isAllowed=y
  • https://jurnal.umsb.ac.id/index.php/menaraekonomi/article/download/1267/1106
Gambar Gravatar
Guru PPKn Alumni Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *